Jakarta, KPonline-Dalam Kongres Perempuan Indonesia yang diselenggarakan Partai Buruh di Jakarta. Minggu, (18/1). Dari atas podium, Presiden Partai Buruh Said Iqbal melontarkan pidato keras, emosional, dan sarat luka sejarah tentang bagaimana perempuan kelas pekerja kerap menjadi korban paling sunyi dari kekerasan negara dan modal, namun juga menjadi tulang punggung peradaban bangsa.
Dalam pidatonya, Said Iqbal membuka cerita tentang “seorang perempuan biasa” bukan tokoh besar, bukan pejabat, bukan elit politik. Seorang buruh perempuan bernama Marsinah yang bekerja di sebuah pabrik jam di wilayah Jawa Timur pada era 1990-an. Seorang buruh perempuan yang berani memperjuangkan pemulihan upah di tengah situasi represi buruh pasca-Orde Baru.
Namun keberanian itu dibayar mahal. “Ketika upah diperjuangkan, ketua serikatnya justru menghilang,” ujar Presiden Partai Buruh di hadapan ratusan peserta kongres. Saat itu, serikat buruh masih tunggal dan berada di bawah kendali kekuasaan. Perempuan-perempuan yang bergerak mempertanyakan upah, justru satu per satu menghilang tanpa kejelasan.
Ia menggambarkan dengan nada getir bagaimana pencarian terhadap mereka berujung pada temuan yang mengerikan: tubuh yang rusak, tulang kemaluan hancur, tanda-tanda penyiksaan brutal, jejak kekerasan sistemik yang hingga kini tak pernah diadili secara nasional.
“Orang sedang memperjuangkan upah, memperjuangkan kemanusiaan. Tapi kok hilang?” katanya.
Pidato itu kemudian melompat jauh ke sejarah panjang bangsa. Presiden Partai Buruh menegaskan bahwa dalam setiap fase sejarah Indonesia, perempuan selalu menjadi sosok yang ditakuti oleh kekuasaan kolonial maupun rezim otoriter.
Ia menyebut Perang Aceh, ketika Belanda ketakutan bukan pada pasukan biasa, melainkan pada pemimpin-pemimpin perempuan. Ia mengingatkan bahwa perempuan Indonesia tidak hanya menjadi korban sejarah, tetapi juga aktor utama perlawanan.
Namun ironisnya, di era modern, perempuan justru dipaksa menanggung beban berlapis yakni menjadi buruh, menjadi ibu, menjadi pengasuh, sekaligus menjadi pihak yang paling mudah disingkirkan.
“Perempuan dipaksa jadi apa saja. Buruh murah, pekerja informal, pengasuh tanpa upah. Tapi ketika bersuara, justru diintimidasi,” tegasnya.
Dalam pidatonya, Presiden Partai Buruh juga mengingatkan bahwa banyak regulasi ketenagakerjaan di Indonesia lahir dari gagasan dan keberanian perempuan. Ia menyebut tokoh perempuan yang berperan penting dalam lahirnya aturan tentang hak istirahat, cuti, dan perlindungan buruh perempuan. Sebuah fakta yang kerap dihapus dari narasi resmi sejarah.
“Bukan laki-laki yang pertama kali memikirkan hak istirahat buruh. melainkan perempuan,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa negara hari ini justru sering melupakan akar sejarah tersebut, ketika kebijakan-kebijakan baru kembali menekan buruh perempuan atas nama efisiensi dan investasi.
Pidato itu mencapai titik paling emosional ketika Presiden Partai Buruh, Said Iqbal berbicara tentang ibunya sendiri. Seorang perempuan pekerja yang harus mengajar dan bekerja keras demi memastikan anaknya tetap bersekolah, meski harus berjalan kilometer demi kilometer karena tak punya ongkos.
Dari pengalaman itulah, ia mengaku belajar tentang arti kemiskinan, martabat, dan keberanian perempuan kelas pekerja.
“Saya makan dari tangan seorang perempuan. Saya hidup dari keringat perempuan,” ucapnya.
Ia menegaskan bahwa gerakan buruh, gerakan guru, dan gerakan perempuan tidak lahir dari ambisi politik, tetapi dari pengalaman hidup yang keras dan tidak adil.
Kongres Perempuan Indonesia yang digelar Partai Buruh, menurutnya, adalah sebuah peringatan bagi negara bahwa perempuan kelas pekerja tidak akan lagi diam, tidak akan lagi dipinggirkan, dan tidak akan lagi diperlakukan sebagai pelengkap pembangunan.
“Kalau perempuan bergerak, sejarah akan berubah,” pungkasnya.