Medan,KPonline, – Sejarah tidak pernah benar-benar berubah, ia hanya berganti wajah. Aksi jalanan menuntut kenaikan upah minimum terus berulang, spanduk berganti, teriakan sama. Ironisnya, buruh nyaris tak pernah bercermin, penderitaan yang mereka lawan hari ini adalah buah dari pilihan yang mereka buat kemarin.
Ketika buruh salah menentukan pilihan politik, yang dikorbankan bukan sekadar arah kekuasaan, melainkan martabat kemanusiaan dan kondisi kerja itu sendiri. Pilihan yang keliru menjelma menjadi kebijakan, dan kebijakan tanpa keberpihakan menjadikan upah sekadar komoditas tawar-menawar elit.
Keringat buruh dihitung murah, waktunya diperas, sementara keadilan dikeluarkan dari rumus.Upah yang seharusnya menjadi pengakuan atas tenaga dan pengorbanan, justru tergadaikan demi kepentingan yang tak pernah hidup di lantai pabrik. Janji kesejahteraan berubah menjadi regulasi penindasan. Suara buruh yang dahulu lantang kini diredam oleh keputusan politik yang ironisnya mereka sendiri turut serta melahirkannya.
Salah memilih memang bukan dosa abadi, tetapi kebodohan yang diulang adalah sebuah pengkhianatan terhadap diri sendiri.
Dalam politik kebijakan, tidak pernah ada pilihan yang netral, setiap suara memiliki konsekuensi. Ketika kesadaran kolektif buruh lumpuh, daya tawarpun ikut runtuh, dan sejak saat itu upah tidak lagi ditentukan oleh keadilan, melainkan oleh kekuasaan yang rakus.
Refleksi bukan lagi pilihan, melainkan kewajiban. Buruh tidak boleh terus diperlakukan dan memperlakukan dirinya sendiri sebagai angka mati dalam statistik pemilu. Buruh harus menjadi subjek politik yang sadar, kritis, dan berdaulat atas masa depannya. Tanpa itu, sejarah akan terus mengulang kebrutalannya, buruh tetap bekerja keras, sementara kebijakan upah terus digadaikan.
Tahun 2029 bukanlah bayangan yang jauh. Ia akan datang cepat atau lambat. Pesta demokrasi kembali digelar, dan para bajingan bermuka malaikat akan turun ke kandang buruh. Mereka datang membawa uang recehan, sembako murahan, dan janji manis yang sesungguhnya racun. Dengan senyum palsu, mereka meminta suara agar bisa kembali berkuasa untuk terus menindas serta merampok uang rakyat.
Yang paling tragis, buruh kembali terbuai. Suara ditukar murah, martabat dijual diskon, dan kesejahteraan digadaikan secara sadar. Lalu setelah itu, buruh kembali turun ke jalan, menjerit menuntut keadilan yang sebenarnya telah mereka serahkan sendiri. (Anto Bangun)