Jakarta, KPonline – Aksi unjuk rasa yang digelar di kawasan gedung-gedung perkantoran mewah kembali menyoroti ironi besar di tengah kota. Para peserta aksi mengaku bukan hanya menghadapi kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat kecil, tetapi juga perlakuan yang merendahkan martabat manusia.
“Hanya sekadar menumpang buang air kecil pun tak layak buat kami di gedung semewah ini,” ungkap salah satu peserta aksi di Jakarta, Rabu (28/01/2026).
Menurutnya, para pendemo diperlakukan seolah bukan manusia, padahal mereka datang untuk menyampaikan aspirasi secara konstitusional.
Para massa aksi menegaskan bahwa mereka hadir bukan untuk membuat keributan, melainkan untuk menyuarakan keberatan terhadap kebijakan yang dinilai menyengsarakan kaum pekerja dan masyarakat kecil.
“Kami ini pendemo, tapi kami juga manusia. Kami punya hak dasar untuk dihormati,” tegasnya.
Gedung-gedung tinggi yang berdiri megah di pusat kota seakan menjadi simbol jurang antara penguasa dan rakyat. Di dalamnya ada kenyamanan, kemewahan, dan fasilitas lengkap, namun bagi mereka yang datang menyuarakan ketidakadilan, akses terhadap kebutuhan paling mendasar pun terasa tertutup.
Aksi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa demokrasi tidak hanya soal mendengar suara rakyat, tetapi juga soal memperlakukan mereka secara manusiawi. Aspirasi tidak boleh dipandang sebagai gangguan, melainkan sebagai alarm bagi negara agar kembali berpihak pada keadilan sosial. (Eva)