Jakarta, KPonline – Ketua Umum Pimpinan Pusat Serikat Pekerja Elektronik Elektrik (SPEE) Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) periode 2021–2026, Abdul Bais, menyampaikan keprihatinan dan kritik terhadap mekanisme pemilihan Presiden FSPMI dalam Kongres VII FSPMI. Hal tersebut disampaikannya saat membuka Musyawarah Nasional (Munas) VII SPEE FSPMI yang berlangsung di Mercure Hotel, Ancol, Jakarta, Senin (9/2/2026).
Dalam sambutannya, Abdul Bais menilai proses pemilihan yang berjalan menimbulkan keprihatinan karena dinilai belum sepenuhnya mencerminkan prinsip demokrasi yang selama ini dijunjung organisasi. Ia menegaskan bahwa demokrasi harus dijalankan secara jujur, terbuka, dan bermartabat agar tidak mencederai nilai serta konstitusi organisasi.
Ia menjelaskan bahwa sikap walk out yang diambil sebelumnya bukanlah keputusan emosional, melainkan bentuk penegasan sikap setelah adanya keberatan resmi terhadap mekanisme dan tahapan pemilihan yang dinilai bermasalah, termasuk penyampaian data dan proses yang dilakukan secara mendadak.
Menutup sambutannya Abdul Bais menegaskan bahwa dirinya legowo jika tidak terpilih menjadi Presiden FSPMI selama prosesnya berjalan sesuai prinsip demokrasi dan AD/ART.
Ia mengajak seluruh elemen SPEE FSPMI menjadikan Munas sebagai momentum evaluasi untuk memperkuat integritas, demokrasi, dan persatuan organisasi.
