Jakarta, KPonline-Presiden Partai Buruh Said Iqbal melontarkan kritik sekaligus peta jalan politik kelas pekerja dalam pidatonya di Kongres V Partai Buruh. Di hadapan para kader dari seluruh Indonesia, Said Iqbal mempertanyakan ironi demokrasi di kawasan industri terbesar Asia Tenggara, yakni Bekasi.
“Bekasi itu kota industri terbesar di Asia Tenggara. Ada sekitar 7.800 pabrik. Tujuh puluh lima persen pemilihnya adalah buruh,” tegas Said Iqbal. Namun, fakta politik berkata lain. “Kenapa Partai Buruh cuma dapat dua kursi DPRD? Itu pun nyaris,” ujarnya.
Said Iqbal menyinggung bahwa kekuatan buruh di Bekasi baru menemukan momentum politik setelah perubahan kepemimpinan daerah. Ia menyebut terpilihnya Bupati Bekasi dari Partai Buruh sebagai akibat langsung dari krisis legitimasi kekuasaan sebelumnya yang tersandung kasus korupsi.
“Barulah Partai Buruh punya bupati. Dan itu bukan hadiah, itu hasil perlawanan,” kata Said.
Ia bahkan menyebut target ambisius Partai Buruh di Bekasi yaitu dengan mencetak pemimpin ala Lula da Silva di Brasil, yang lahir dari rahim buruh dan memerintah dengan keberpihakan tegas kepada kelas pekerja.
“Seperti Lula menang di Sao Paulo dan Porto Alegre. Maka kebijakannya harus pro buruh, tanpa menyusahkan pemuda, pro lingkungan hidup, pro HAM, pro upah layak, dan menghapus sistem kerja outsourcing modern slavery,” tegasnya.