Bebaskan Lee Cheuk Yan! Apolinar Tolentino, perwakilan dari Building and Wood Workers International (BWI) dari Myanmar Suarakan Solidaritas di Kongres VII FSPMI

Bebaskan Lee Cheuk Yan! Apolinar Tolentino, perwakilan dari Building and Wood Workers International (BWI) dari Myanmar Suarakan Solidaritas di Kongres VII FSPMI

Jakarta, KPonline – Apolinar Tolentino, perwakilan dari Building and Wood Workers International (BWI) dari Myanmar yang hadir dalam Kongres VII Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) di Hotel Mercure Convention Center Ancol, Jakarta Utara, Minggu (8/6/2026), menyerukan penguatan solidaritas internasional terhadap buruh dan aktivis serikat pekerja yang mengalami represi di berbagai negara.

Dalam penyampaiannya, Apolinar Tolentino, mengingatkan bahwa Februari tahun lalu genap lima tahun sejak junta militer Myanmar mengambil alih kekuasaan, yang berdampak langsung pada hancurnya demokrasi, kebebasan berserikat, serta tatanan ketenagakerjaan di Myanmar. Hingga kini, kaum buruh dan rakyat Myanmar masih hidup di bawah tekanan dan ketakutan.

Bacaan Lainnya

Ia menyerukan agar gerakan buruh internasional meningkatkan upaya kolektif untuk menekan junta militer Myanmar, salah satunya dengan memastikan kapal-kapal yang membawa kepentingan militer Myanmar tidak dapat melanjutkan pelayaran menuju Myanmar ketika bersandar di pelabuhan-pelabuhan regional.

“Kami berharap kawan-kawan dapat menambah ikhtiar dan upaya bersama untuk memastikan kapal-kapal yang membawa kepentingan militer Myanmar tidak sampai ke Myanmar,” ujarnya di hadapan peserta kongres.

Selain Myanmar, ia juga menyoroti memburuknya kebebasan berserikat di kawasan Asia, khususnya di Hong Kong. Pembatasan kebebasan berkumpul telah membuat aktivis Konfederasi Serikat Pekerja Hong Kong tidak lagi dapat menyelenggarakan pertemuan secara terbuka.

Dalam kesempatan tersebut, ia secara khusus menyebut nama Lee Cheuk Yan, tokoh buruh dan demokrasi Hong Kong, yang hingga hari ini telah menjalani lebih dari seribu hari masa penahanan akibat sikap kritisnya terhadap kebijakan represif pemerintah.

“Lee Cheuk Yan adalah simbol perlawanan buruh dan demokrasi. Ia telah lebih dari seribu hari berada di penjara,” tegasnya.

Sebagai bentuk solidaritas internasional, Kongres VII FSPMI disebut akan melahirkan surat dukungan resmi yang berisi seruan pembebasan terhadap Lee Cheuk Yan serta aktivis buruh dan demokrasi lainnya yang masih ditahan.

“Sebagai bentuk solidaritas, kita akan mengeluarkan surat dukungan yang menuntut pembebasan Lee Cheuk Yan dan para aktivis yang saat ini masih ditahan,” ujarnya.

Seruan “Bebaskan Lee Cheuk Yan” menggema dalam Kongres VII FSPMI, menegaskan bahwa perjuangan buruh Indonesia tidak terpisah dari perjuangan buruh dunia, dan bahwa solidaritas internasional tetap menjadi kekuatan utama melawan represi, ketidakadilan, dan kekuasaan otoriter.

Pos terkait