Saat banjir melanda Bekasi, rumah warga terendam, jalan lumpuh, dan keselamatan keluarga jadi taruhan. Tapi yang justru muncul adalah konten di media sosial milik salah satu anggota DPR RI yang menanyakan, “Kemana Garda Metal?” Pertanyaan ini bukan sekadar keliru, tapi menunjukkan betapa miskinnya nalar sebagian elite dalam memahami peran negara.
Padahal, sebagai bagian dari rakyat, Garda Metal FSPMI sedang membantu warga. Bukan sedang ongkang-ongkang kaki.

Mari luruskan. Garda Metal adalah bagian dari serikat buruh, bukan negara. Mereka anggota FSPMI – KSPI.
Garda Metal tidak memegang anggaran negara, tidak mengatur tata ruang, tidak mengelola drainase, tidak punya BPBD atau BNPB, dan tidak bertanggung jawab atas mitigasi bencana. Dengan demikian, saat banjir terjadi, pertanyaan yang benar bukan “di mana Garda Metal?”, tapi di mana pemerintah, ke mana anggaran pengendalian banjir, dan bagaimana fungsi pengawasan DPR dijalankan.
Justru memalukan jika ada anggota DPR yang lebih sibuk mencari “pasukan sosial” dari organisasi rakyat, ketimbang menagih kewajiban negara yang digaji untuk melindungi warganya. Lebih berbahaya lagi, logika ini perlahan membangun narasi bahwa kalau negara gagal, rakyat yang harus menambal. Kalau pemerintah lalai, organisasi rakyat yang disuruh turun.
Solidaritas buruh itu nyata. Jika Garda Metal membantu warga, itu karena kemanusiaan dan persaudaraan kelas pekerja. Tapi jangan dibalik. Bantuan rakyat tidak boleh dijadikan alasan agar negara bebas dari tanggung jawab. Yang rakyat butuhkan adalah negara yang mencegah banjir dari akar masalah, bukan elite yang sibuk cuci tangan berjubah moral.