Aksi Buruh di Kemenaker, Ketum PP SPAMK FSPMI Soroti Impor Pickup

Aksi Buruh di Kemenaker, Ketum PP SPAMK FSPMI Soroti Impor Pickup
Foto by Budi Santoso | Media Perdjoeangan

Jakarta, KPonline-Ratusan massa buruh dari Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) bersama Partai Buruh menggelar aksi unjuk rasa di depan Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia, Rabu (4/3/2026). Di tengah suasana bulan suci Ramadan, semangat perlawanan buruh justru membara. Mereka datang bukan sekadar menyuarakan aspirasi, tetapi memperingatkan pemerintah bahwa kebijakan yang salah bisa menjadi ancaman nyata bagi jutaan pekerja Indonesia.

Dalam orasinya Ketua Umum Pimpinan Pusat Serikat Pekerja Automotif Mesin dan Komponen (PP-SPAMK) FSPMI, Khoirul Bakrie, menegaskan bahwa puasa bukan alasan untuk berhenti berjuang.

“Kita semua berpuasa, tapi puasa bukan menjadi hal yang membuat kita berhenti berjuang. Hari ini menentukan nasib kita ke depan. Hari ini menentukan nasib anak-anak kita, nasib keluarga kita,” tegasnya di hadapan massa aksi.

Menurutnya, perjuangan buruh tidak mengenal jeda. Justru di tengah keterbatasan fisik karena menahan lapar dan dahaga, semangat solidaritas semakin teruji.

Salah satu isu utama yang disoroti dalam aksi tersebut adalah rencana impor mobil jenis pick up (big up) dari India sebanyak lebih dari 100 ribu unit. Kebijakan ini dinilai sebagai ancaman serius bagi industri otomotif nasional dan jutaan pekerja yang menggantungkan hidup di sektor tersebut.

Khoirul menegaskan bahwa sektor otomotif, mesin, dan komponen saat ini menjadi salah satu tulang punggung industri nasional dengan menyerap sekitar 5,1 juta tenaga kerja secara langsung maupun tidak langsung melalui rantai pasok.

“Industri otomotif dan komponen di Indonesia ini kelompok kunci. Kalau ada impor 100 ribu lebih kendaraan, itu bukan angka kecil. Itu bisa mengguncang tenaga kerja dan rantai pasok,” ujarnya.

Ia memperingatkan, membanjirnya kendaraan impor akan memukul produksi dalam negeri. Ketika produksi menurun, dampaknya bukan hanya pada pabrik perakitan, tetapi juga industri komponen, supplier kecil-menengah, hingga pekerja di lini distribusi.

“Kalau ini dibiarkan, kita hanya akan menjadi negara pengimpor. Negara yang pasar domestiknya dikuasai produk luar. Lalu di mana keberpihakan pemerintah pada industri nasional?” serunya.

Selain isu impor, ia juga memprotes kebijakan perpajakan yang dianggap semakin membebani buruh. Khoirul menyampaikan bahwa buruh adalah kelompok yang paling taat pajak karena potongannya dilakukan langsung dari gaji setiap bulan.

“Kita terima gaji, pajak langsung dipotong. Kita ini pembayar pajak yang paling disiplin. Tapi kenapa kebijakan-kebijakan yang keluar justru makin membebani kita?” katanya.

Ia pun menyinggung rencana penerapan pajak terhadap berbagai komponen yang dinilai tidak sensitif terhadap kondisi ekonomi pekerja, terutama menjelang hari raya keagamaan.

“Jangan sampai menjelang hari raya, yang seharusnya jadi momen kebahagiaan umat beragama, malah ditambah beban baru. Ini tidak adil,” tegasnya.

Menurutnya, kebijakan fiskal seharusnya berpihak pada rakyat pekerja, bukan sebaliknya. Mereka mendesak pemerintah untuk mengevaluasi kebijakan yang berpotensi mempersempit ruang hidup buruh.

Kemudian, Khoirul juga menekankan dimensi moral dan spiritual dari perjuangan buruh. Ia mengajak massa aksi buruh FSPMI untuk menjadikan perjuangan sebagai bagian dari ibadah.
“Kita tidak lepas dari doa kepada Allah SWT. Kita jadikan nilai perjuangan ini sebagai ibadah. Kalau kita berada di garis kebenaran untuk membela kaum buruh, yakinkan diri kita, dan terus kerjakan,” ujarnya.

Menolak Kebijakan Impor Pickup dari India merupakan salah satu tuntutan FSPMI bersama Partai Buruh dalam aksi tersebut.

“Kalau kita yakin berada di garis kebenaran untuk membela kaum buruh, jangan ragu. Terus berjuang,” pungkas Khoirul.