Abdul Bais, S.E ; Tegaskan SPEE FSPMI Punya Kader Tangguh, Bukan Krisis SDM tapi Krisis Keberanian

Abdul Bais, S.E ; Tegaskan SPEE FSPMI Punya Kader Tangguh, Bukan Krisis SDM tapi Krisis Keberanian

Jakarta, KPonline – Calon Presiden Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI), H. Abdul Bais, S.E, menghadiri Kongres VII FSPMI yang digelar di Ballroom Hotel Mercure Convention Center Ancol, Jakarta Utara, Minggu (8/2/2026). Kehadirannya menjadi penegasan bahwa kaderisasi di tubuh Serikat Pekerja Elektronik dan Elektrik (SPEE) FSPMI berjalan nyata dan melahirkan figur-figur berkualitas.

Dalam momentum Kongres tersebut, mengemuka narasi yang menyebutkan bahwa SPEE FSPMI tidak memiliki kader. Narasi ini dinilai keliru, menyesatkan, dan tidak berdasar pada fakta organisasi.

Bacaan Lainnya

Faktanya, Saat di wawancara oleh Crew Media Perdjoeangan menurutnya dengan secara tegas bahwa SPEE FSPMI justru memiliki banyak kader terbaik yang lahir dari proses panjang pengabdian, konsistensi perjuangan, serta kerja nyata di basis anggota. Persoalan yang sesungguhnya bukanlah ketiadaan kader, melainkan ketiadaan kemauan untuk memberi ruang dan kesempatan bagi kader-kader tersebut untuk tampil dan berkontribusi secara maksimal.

Kapasitas kader ada, rekam jejak ada, dan pengalaman organisasi pun nyata. Namun dalam praktiknya, kader-kader potensial kerap tersisihkan oleh kepentingan sempit serta kalkulasi elite yang tidak berpihak pada semangat kaderisasi dan demokrasi organisasi.

Salah satu contoh konkret adalah H. Abdul Bais, S.E, kader SPEE FSPMI yang telah teruji secara organisasi, matang dalam pemikiran, serta konsisten berdiri bersama anggota. Sosok yang tumbuh dari bawah, memahami denyut nadi perjuangan buruh, dan memiliki integritas serta kompetensi yang tidak bisa disangkal.

Menyebut SPEE FSPMI tidak memiliki kader sama artinya dengan menutup mata terhadap realitas dan mengingkari kerja panjang proses kaderisasi yang telah dibangun bertahun-tahun.

Organisasi yang sehat bukanlah organisasi yang sibuk mencari alasan, melainkan organisasi yang berani mengakui, menghargai, dan memanfaatkan potensi kadernya sendiri. Jika kader-kader terbaik terus diabaikan, maka yang sedang mengalami krisis bukanlah kadernya, melainkan keberanian organisasi untuk jujur pada dirinya sendiri.

Kongres VII FSPMI menjadi momentum penting untuk membuktikan bahwa masa depan organisasi harus dibangun di atas keberanian, keterbukaan, dan kepercayaan pada kekuatan kader internal.

Pos terkait