Menperin Sebut Indonesia akan Banjir Investasi, Buruh Ingatkan Tujuan Investasi Untuk Kesejahteraan

  • Whatsapp

Jakarta, KPonline – Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto, menyebutkan Indonesia akan banjir investasi. Investasi senilai Rp133 triliun akan digelontorkan untuk sektor industri petrokimia secara bertahap, mulai tahun ini hingga 2021. Investasi itu berasal dari PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. dan perusahaan asal Korea Selatan, Lotte Chemical Titan.

Airlangga mengatakan, kedua perusahaan akan mengalirkan modal ke Indonesia untuk menambah kapasitas produksi dan membangun pabrik baru. Diperkirakan, itu akan meningkatkan daya gedor mesin industri petrokimia Indonesia.

“Ekspansi ini bertujuan memenuhi kebutuhan bahan baku kimia berbasis nafta cracker di dalam negeri sehingga nanti tidak perlu lagi impor,” ujar Airlangga dalam keterangan tertulis, Minggu (19/2).

Baca juga: Begini Cara Menjinakkan Serikat Pekerja di Kawasan Ekonomi Khusus

Chandra Asri, lanjut Airlangga, akan menyuntik modal dengan total US$6 miliar atau sekitar Rp80 triliun. Namun, di tahun ini Chandra Asri baru mengalirkan modal sebanyak US$150 juta untuk menambah kapasitas butadiene sebanyak 50 ribu ton per tahun dan polietilene sebanyak 400 ribu per tahun.

Chandra Asri memperkirakan, dengan adanya investasi itu hasil produksi dari pabrik dengan fasilitas penunjang di Cilegon dan Serang, Banten dapat meningkat hingga dua kali lipat.

Selama ini hasil produksinya 900 ribu ton per tahun. Dengan dukungan yang ada, diharapkan itu meningkat menjadi 1,8 juta ton per tahun. Dari jumlah itu, sebanyak 1,6 juta ton diprediksi akan mengalir untuk menutup kebutuhan dalam negeri.

Sementara Lotte Chemical Titan, akan mengalirkan investasi sebesar US$3 sampai US$4 miliar atau sekitar Rp52-53 triliun untuk meningkatkan kapasitas produksi nafta cracker, yang digunakan untuk menghasilkan etylene, propylene, dan produk turunannya, sebanyak dua juta ton per tahun.

Baca juga: Isu TKI Jadi Pembahasan di Forum Kerjasama Indonesia – Eropa

Selain itu, investasi juga akan digunakan untuk memproduksi etilen sebanyak satu juta ton dan propilen sebanyak 600 ribu ton per tahun.

Kemudian, perusahaan juga diperkirakan akan mampu membuka lapangan pekerjaan untuk menyerap sekitar sembilan ribu pekerja, yakni enam ribu pekerja saat masa konstruksi dan tiga ribu pekerja saat pabrik telah beroperasi.

Selanjutnya, produksi ini diharapkan mampu mengurangi impor Indonesia sebanyak 10 persen atau senilai US$1,5 miliar dari total impor saat ini yang mencapai US$15 miliar. Airlangga optimistis, kapasitas produksi Indonesia akan mampu mengejar negara-negara di kawasan Asia Tenggara atau ASEAN lainnya.

“Saat ini, kapasitas untuk menghasilkan nafta cracker hanya 900 ribu ton per tahun. Sedangkan Singapura 3,8 juta ton dan Thailand lima juta ton,” imbuh Airlangga.

Investasi di industri petrokimia juga diharapkan dapat berjalan lebih lanjut untuk memperkuat sektor manufaktur hilir dalam negeri, seperti industri plastik, tekstil, cat, kosmetika, hingga farmasi. Dalam catatan Airlangga, pembangunan pabrik petrokimia terakhir adalah saat krisis tahun 1998.

Belum lagi, pemerintah juga telah menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 40 Tahun 2016 tentang Penurunan Harga Gas yang diberikan bagi industri petrokimia, pupuk, dan baja, untuk menstimulus roda industri.

Dirjen Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka (IKTA) Achmad Sigit Dwiwahjono memprediksi, dengan investasi dan insentif berupa harga gas murah tersebut, pertumbuhan industri petrokimia dapat meningkat dari 5,2 persen di tahun lalu menjadi enam persen di tahun ini.

“Kami menargetkan investasi di sektor IKTA sepanjang tahun ini dapat mencapai Rp152 triliun. Tahun lalu investasinya sebesar Rp110 triliun. Untuk tahun ini akan didorong oleh industri petrokimia seperti investasi pabrik nafta cracker oleh Lotte Chemical Titan dan Chandra Asri, mereka sudah setuju untuk dimulai tahun ini,” kata Sigit

Menanggapi hal ini, Vice President Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia, Kahar S. Cahyono, mengingatkan bahwa tujuan investasi adalah penyerapan tenaga kerja, peningkatan output yang dihasilkan, sehingga kegiatan ekonomi pun ikut terpacu. Dengan kata lain, investasi harus berorientasi pada kesejahteraan rakyat.

Karena itu, ketika Indonesia disebut banjir investasi, maka harus tercermin dari kesejahteraan rakyat yang meningkat. Jangan sampai justru terjadi ketimpangan, yang kaya makin kaya sedangkan yang miskin makin miskin, akibat banyak masyarakat yang tidak merasakan kue investasi tersebut.