Gagahnya Demonstran KTT G20, Bagaimana Mungkin Kamu Tak Jatuh Hati?

Jakarta, KPonline – Ratusan ribu demonstran turun ke jalan menjelang pertemuan negara-negara ekonomi utama dunia atau Grup 20 (G20), beberapa waktu yang lalu. Demonstran membentangkan spanduk, “selamat datang di neraka”. Spanduk ini ditujukan untuk para pemimpin negara, lantaran berbagai kebijakan G20 dinilai menyebabkan kondisi seperti di neraka: kelaparan, perang dan bencana iklim.

Di akun facebook-nya, Laika Yoni menulis, banyak orang tidak suka demo. Bahkan mencacinya karena dianggap mengganggu dan tidak elegan. Tetapi diam-diam menyukai foto-foto para demonstran yang heroik. Orang-orang yang berdiri gagah memperjuangkan apa yang diyakininya sebagai sebuah kebenaran. Berteriak lantang menentang segala bentuk penidasan.

Bacaan Lainnya

Wajar jika banyak yang jatuh hati dengan momentum seperti ini.

Masih menurut Laika, demo adalah wujud ekspresi budaya kolektif massa untuk menuntut perubahan. Ekspresi ini sudah melahirkan banyak perubahan (yang lebih banyak baiknya ketimbang buruknya).

Demontrasi adalah cara menyampaikan aspirasi/tuntutan/gugatan agar semakin banyak orang yang mendengar sehingga semakin banyak orang tahu dan mendapatkan semakin banyak dukungan untuk dapat mengubah keadaan yang digugat itu. Semakin banyak yang terlibat, dengan metode demo yang menarik perhatian dan kreatif menyampaikan info pada massa yang tidak paham, maka akan semakin menawan demo tersebut. Sehingga semakin mendapat perhatian dan semakin membuat orang percaya diri untk terlibat.

Demo itu efektif, bukan untuk langsung mendapat kemenangan. Tetapi untuk investasi pesan-pesan perubahan yang dapat mengubah pikiran orang dan memberi kepercayaan diri pada orang tersebut, bahwa partisipasi langsungnya dapat mengubah keadaan. Demo itu adalah pesan moral bahwa rakyat punya kekuatan jika ia tidak sendirian. Demo juga membuat masyarakat belajar berani mengekspresikan kehendaknya secara langsung.

Karena itu aparat keamanan sebagai pelindung kekuasaan, sesuai mandat Undang-Undang yang diciptakan oleh kekuasaan , selalu bertujuan menekan demo agar tidak terjadi, dan kalaupun terjadi mesti dibatasi, diisolasi, ditangkapi termasuk tidak boleh diliput wartawan atau tidak lolos dari kebijakan redaksi media. Tujuannya, agar aspirasi para pendemo tidak didengar luas.

Satu-satunya yang ditakuti kekuasaan adalah demonstrasi. Karena: melibatkan banyak orang, didengarkan banyak orang.

Kenapa kekuasaan takut pada pada banyak orang? Karena kekuasaan yang berlaku dalam sistem demokrasi untuk orang-orang kaya ini hanya digerakkan oleh segelintir orang dengan memanfaatkan legitimasi banyak orang. Sehingga kekuasaan itu akan sangat takut ketika orang banyak yang dimanfaatkan legitimasinya itu melawan balik.

Tidakkah tergetar hatimu melihat aksi para demonstran ini? Berbekal keyakinan untuk memperjuangkan tatanan yang lebih baik, dia berdiri di garis depan. Berhadap-hadapan. Sungguh, ini adalah keberanian yang mengagumkan.

Demonstrasi juga akrab dengan kaum buruh di Indonesia. Jika di Hamburg, Jerman, yang terbilang negara maju — ratusan ribu orang bisa turun ke jalan, maka mustinya ini semakin membuat kamu semakin percaya bawah demo bukanlah hal yang tabu untuk dilakukan. Yuk singsingkan lengan baju dan bergerak maju.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.