Tempat Menginap Rombongan Longmarch, RM Uun, Ibarat Mantan yang Dicampakkan

Subang, KPonline – Selama di Subang, rombongan longmarch Surabaya – Jakarta menginap di bekas RM Uun. Semasa masih jaya, rumah makan ini menjadi rumah makan tempat persinggahan bus-bus malam  yang lalu-lalang di jalur Pantura (pantai utara Jawa).  Tetapi setelah tol Cipali beroperasi, banyak rumah makan di sepanjang jalur Pantura mengalami kebangkrutan. Tidak terkecuali RM Uun. Bangkrutnya RM Uun menyebabkan 90 orang yang bekerja di tempat ini kehilangan pekerjaan.

Kokok Dirgantoro di mojok.com pernah menulis, bahwa pembangunan infrastruktur besar ini tak ubahnya mencampakkan mantan. Seperti meninggalkan kekasih yang selama ini menemani hari-hari yang berat saat mudik beberapa tahun lalu.

“Kekasih yang dicampakkan itu bernama ekonomi rakyat kecil,” tulis Kokok.

Apa hubungannya? Bukankah karena tol, perekonomian akan makin efisien? Tidak selalu demikian. Faktanya, ada yang terluka akibat kebijakan ini.

Selama ini arus lalu lintas Pantuta telah memberi penghidupan bagi ribuan usaha kecil yang terserak dari Cikampek hingga Cirebon. Mereka mendapat berkah dari belanja orang-orang lewat yang jumlah kendaraannya puluhan ribu setiap hari. Dari sebuah bus yang berhenti di jalur pantura akan memberikan dampak besar belanja penumpang. Dari sekedar beli makanan kecil, minum, buah, minyak angin hingga yang paling kecil: numpang kencing.

Deretan meja dan kursi ini menjadi saksi, bahwa rumah makan ini dulu ramai dikunjungi pembeli.

Tetapi sayang seribu sayang, potensi tersebut tak dinikmati lagi oleh usaha kecil pantura. Termasuk RM Uun ini. Nasibnya mirip banget dengan pacar lama yang ditinggalkan.

Padahal dulu, sebelum ada Cipali, orang-orang selalu menunggu exit Cikampek untuk beli peyeum, rambutan, mangga, makan di restoran Padang, jajan sate, dan masih banyak lagi. Kini bablas. Kepala mendongak sombong sembari menginjak pedal gas di tol. Tak peduli lagi dengan usaha kecil yang dulu kerap saling sapa, membantu kita menghapus dahaga atau makan saat berbuka H-4 hingga H-1.

Dulu, sebelum Tol Cipali diresmikan, kehidupan disepanjang ruas jalan pantura masih menjadi satu satunya mata pencarian para warga disini. Berjajar rumah makan dengan luas halaman yang lebar menjadi modal mereka untuk bisa menawarkan tempat peristirahatan bagi para pengendara mobil.

Saat ini, warung-warung yang biasanya ramai menjadi tempat pemberhentian bus, truk dan mobil tersebut sudah banyak yang tutup. Tak sedikit dari warung makan tersebut sudah banyak yang rusak dan tak terawat.

Ketua Tim Survei Dampak Tol Cipali Budi Saharjo menyampaikan, 68-70 persen pengusaha restoran di kawasan Pantura tutup sejak jalur tol sepanjang 116,75 km itu dibuka.

“Keberadaan Tol Cipali bukan hanya menguntungkan pengguna jalan saja, melainkan keberadaan tol ini justru cenderung membuat usaha yang ada di sepanjang Jalur Pantura gulung tikar,” ujar Budi usai pemaparan Diseminasi Hasil Survei Dampak Tol Cipali Terhadap Aktivitas Perekonomian di Kawasan Pantura dan Exit Toll, pada tanggal 29 Desember 2015 yang lalu.

Facebook Comments