Suatu Malam Di Kota Tua

Senja baru saja turun menyelimuti kota Jakarta, ketika rombongan dari peserta Rakernas Media Perdjoeangan mulai meninggalkan kantor DPP tempat lokasi acara untuk menuju Kota Tua guna mengadakan serangkaian kegiatan

Lampu jalan di sepanjang jalan Ibukotapun mulai menyala di iringi bunyi klakson dari mobil-mobil yang tiada hentinya mengalir dari ujung ke ujung, seakan memberitahu bahwa Ibukota tidak pernah tidur sepanjang hayatnya.

Mobil Grab yang kami tumpangi berjalan tersendat membelah kepadatan jalanan ibukota untuk menuju stasiun pasar minggu.

Setelah menunaikan ibadah sholat maghrib di sebuah mushola di stasiun, rombongan segera bergegas untuk masuk ke dalam gerbong kereta commuter line yang hanya sekian detik berhenti di stasiun ini.

Suasana di dalam gerbong comuterline

Ini merupakan pengalaman saya yang pertama menaiki moda transportasi kebanggaan Jakarta selain Transjakarta tentunya.Perjalanan dengan kereta comuter, bahkan di negara maju sekalipun, bukanlah sesuatu yang nyaman. Kereta komuter atau Commuter lebih menekankan pada kata murah, massal dan juga cepat. Oleh karena itu kata nyaman bukanlah sesuatu yang menjadi prioritas bagi penyelenggaranya, namun demikian anggapan itu adalah salah menurut saya.

Meski tidak mendapatkan tempat duduk dan harus berdiri tapi hembusan kencang dari pendingin udara sangat kuat dan dengan cepat bisa menyejukkan seisi ruangan. Gerbong kereta juga kelihatan bersih karena petugas kebersihan selalu rutin membersihkannya di sela kepadatan penumpang.

Sejumlah penumpang nampak tertidur di sebuah gerbong comuterline

Suasana si comuterline ini hampir serupa dengan MRT di Singapore. Saya sudah beberapa kali naik MRT jika ada kesempatan pergi ke Singapore untuk urusan pekerjaan atau liburan.Transportasi di Singapore memang sangat nyaman dan patut di acungkan jempol atas kemapanan mereka mengelola system transportasi terpadu. Cukup dengan membeli EZ Link Card, kita bisa menjelajahi Singapore dengan bus, LRT ( Light Rail Train ) maupun MRT. Sangat praktis. Tapi kenyamanan ini memang ada harganya. Biaya transportasi di Singapore, menurut ukuran kocek saya sangat mahal sekali. Kalau saya tidak salah ingat jarak dekat adalah 1 SGD, sedang 2SGD dan jarak agak jauh mungkin antara 2.5-3SGD, sedangkan comuterline di Jakarta cukup 3 ribu rupiah saja untuk jarak terdekat.

Hampir jam delapan malam kami tiba di stasiun Jakartakota, dan ini juga kali pertama saya ke sini khususnya pada malam hari.

Sejenak kami menikmati nuansa tempo dulu di stasiun ini. Dengan memperhatikan bentuk bangunan stasiun Jakartakota ini sangat megah dan kuat. Kekokohan tiang-tiang penyangganya dan konstruksi pilar-pilar bangunannya membuat saya terasa kagum.

Tanpa saya sadari diri ini terbawa oleh hanyutan suasana romantis khas tempo dulu yang memancarkan dari kehebatan arsitektur bangunannya dan masuk ke dalam spektrum masa silam pada zaman kolonial Belanda.

Suasana di stasiun Jakartakota pada malam hari

Stasiun Jakartakota ini jaraknya hanya beberapa meter dari kawasan Kota Tua, tak heran jika di stasiun ini selalu ramai oleh pengunjung.

Dengan berjalan kaki kami menyusuri jalan menuju Kota Tua, sepanjang jalan pasangan muda mudi bergandengan tangan dan mesra membuat diri ini teringat pada masa muda dulu, Ah cepatnya waktu berlalu.

Di kawasan kota tua, gedung-gedung putih yang sudah mulai di makan usia tampak temaram penuh misteri diterpa sinar lampu dari kejauhan. Suasana seketika berubah dari hiruk pikuk menjadi sedikit lebih santai. Aneka cinderamata di pajang di sepanjang jalan. Pelataran Taman Fatahillah, memulai kehidupannya sendiri yang hangat dan santai. Di tepi sebelah barat nampak sebuah panggung besar sudah mulai menyajikan sebuah hiburan lampu lampu indah. Rupanya sedang ada sebuah event yang mendatangkan salah satu band kesukaan saya GIGI. Dan lagi-lagi saya terbawa oleh nostalgia masa remaja, ketika belum banyak group musik seperti sekarang ini. Band yang dimotori oleh Dewa Budjana, dan Armand Maulana ini langsung menghentak membuat puluhan remaja larut dan melompat kegirangan.

Selepas lagu kedua, saya kembali ke meja di Batavia Cafee, sambil memesan secangkir kopi toraja. Rasanya sangat khas dan membuat diskusi lebih semangat.

Kopi toraja, dengan bubuk yang khas dan bau yang harum

Ngobrol diskusi sambil menikmati suasana di seputaran Kota Tua ada suasana denyut yang berbeda. Saya sendiri pernah ke sini pada siang hari tepat setahun yang lalu. Para pedagang kaki lima ditempatkan di sejumlah gang masuk ke area Taman Fatahillah. Pelataran di depan Museum Sejarah Jakarta atau dikenal Museum Fatahillah menjadi cukup lapang bagi pengunjung untuk bersepeda, berjalan-jalan, duduk-duduk, atau berbincang-bincang.

Untuk suasana malam hari, mungkin penerangan di situs bersejarah ini masih belum sebanding dengan luasnya area sehingga pada beberapa bagian terasa minim penerangan.

Akan tetapi, bagi teman kami pencinta fotografi, penerangan yang minim ini bisa menjadi cukup eksotik untuk mengabadikan karyanya. Mereka memotret gedung yang terlihat angker, tetapi megah di bawah sorotan lampu.

Kota Tua di malam hari banyak muda-mudi atau keluarga bergerombol sambil mengobrol dan menikmati makanan yang banyak dijual di sekitar Pelataran Taman Fatahillah.

Riang remaja saling bercengkerama ke sana kemari sambil bercanda. Para penggemar fotografi sibuk dengan kamera masing- masing, memilih obyek foto yang menarik.

Di pinggir pelataran tampak terang lampu-lampu menerangi para pedagang yang menjual berbagai macam barang, mulai dari baju, sepatu, aksesori, hingga pernak-pernik lainnya mirip pasar malam. bersambung

Facebook Comments

Suhari Ete

Kontributor Media Perdjoeangan Batam, Kepulauan Riau. (suhari@outlook.com)