Sebuah Catatan, Sebelum Omah Buruh Tinggal Kenangan

Bekasi, KPonline – Dulu banyak bayi lahir di Omah itu. Mungkin sekarang bayi itu sudah bisa jalan sendiri. Semoga masih ingat jalan menuju pulang.

Dulu di Omah itu banyak anak-anak belajar bagaimana mendirikan, merekrut dan menjalankan sebuah organisasi yang kuat. Dan bisa jadi, organisasinya sekarang sudah kuat. Semoga saja anak-anak itu masih punya sedikit kekuatan untuk melihat Omahnya mereka yang dulu…

Banyak pemuda-pemudi berkumpul dan berdiskusi di Omah itu. Sehingga api perlawanan di dada mereka membara.

Getaran semangat dan keyakinan akan perubahan kian membahana.

Semoga getaran itu masih ada ketika Omah mereka dalam waktu tidak lama lagi akan porak-poranda..Tapi bukan karena angin ataupun hujan.

Banyak para orang tua yang tersadar dari tidur panjangnya di Omah itu. Yah, Omah itu menampar mereka. Kalau selama ini mereka tertindas dan hanya menjadi kacung-kacung pabrik.

Semangat 45 sedikit demi sedikit kian bangkit di Omah itu. Bangkitkan darah juang mereka. Ternyata kesejahteraan itu harus diperjuangkan. Tapi akankah mereka tidur kembali saat Omah itu sudah tidak ada?

Saya yakin disaat –saat terakhir Omah itu, pasti merindukan bayi-bayi yang dulu sering berisik,.canda tawa anakanak,.pekikan “Hidup Buruh! Hidup FSPMI! Hidup Rakyat Indonesia.!”.dari para pemuda pemudi dan orang tua itu.

Merindukan gema lagu Indonesia Raya dan Mars FSPMI,.merindukan dikotori sampah gelas plastik bekasi kopi dan puntung rokok. Bukan dikotori debu dan sampah dedauanan seperti sekarang…

Di seberang Omah Buruh hati ini bergetar..

Facebook Comments

Aep Risnandar

Kontributor Bekasi, Jawa Barat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *