Rumah Rakyat Indonesia Gelar Diskusi dengan Berbagai Elemen Gerakan

Jakarta, KPonline – Jum`at (10/6/2016), bertempat di Hotel Mega Proklamasi, Rumah Rakyat Indonesia menggelar diskusi bersama Serikat Petani Indonesia (Henry Saragih), Partai Buruh/SBSI (Mochtar Pakpahan), dan Organisasi Rakyat Indonesia (Andi Gani Nena Wea).

Bertindak selaku moderator dalam pertemuan ini, deklarator Rumah Rakyat Indonesia Said Iqbal mengatakan, bahwa pertemuan ini tidak akan mengambil satu keputusan apapun.

“Kita hanya berdikusi. Berbagi pengalaman dan gagasan. Adapun tema dalam diskusi pada sore hari ini adalah, siapkah buruh, petani, nelayan, mahasiswa, dan element yang lain, menyambut pemilu 2019 melalui partai politik miliknya sendiri,” kata Iqbal.

Iqbal menjelaskan, dua hari yang lalu, Rumah Rakyat Indonesia sudah ada diskusi di kantor SBSI yang dipimpin Mochtar Pakpahan. Dari sana ada usulan untuk mendiskusikan masalah gerakan politik lebih luas lagi. Namun demikian, menurut Iqbal, diskusi dirinya dengan Mochtar sudah terjadi sejak 2 tahun sebelumnya. Tidak hanya dengan Mochtar, diskusi dengan Hendri Saragih dari Serikat Petani Indonesia secara intensif juga sudah terjalin selama 1 tahun terakhir.

Dijelaskan Iqbal, Rumah Rakyat Indonesia yang dideklarasikan pada tanggal 1 Mei 2016, memang didirikan atau didesain untuk melahirkan Partai Politik. RRI dideklarasikan oleh KSPI dan KPBI termasuk element didalamnya. Selain itu, ada juga kawan-kawan FSPASI, FSUI, guru honor, element perempuan dan mahasiswa.

Permasalahannya adalah, untuk mendapatkan badan hukum bagi partai politik baru, dibatasi sampai dengan tanggal 29 Juli 2016. Atas dasar hal itu, RRI memutuskan tiga pilihan.

Pertama, tetap mendirikan partai politik sendiri dengan berkoalisi dengan elemen lain. Dengan demikian, partai politik yang akan didirikan ini benar-benar baru. Apakah ini rasional? Karena ini waktu yang pendek, nampaknya akan sulit. Meskipun demikian, RRI tetap berusaha. Minggu depan, RRI merencanakan ada pertemuan perwakilan se Indonesia untuk mendiskusikan partai politik baru ini.

Kedua, mengakuisisi partai politik yang sudah ada. Partai politik yang sudah terdaftar, tidak perlu lagi melalui verifikasi oleh Kemenkumham. Sehingag partai ini nantinya tinggal mengikuti verifikasi KPU. Memang ada beberapa partai politik yang sedang kita dekati. Partai Buruhnya Mochtar Pakpahan, Partai Pelopornya Rachmawati Soekarnoputri, dan Partai Merdekanya Adi Sasono.

“Dalam kaitan dengan itu, dalam pertemuan hari ini, kita akan mendiskusikan pilihan kedua. Mengakuisisi partai politik yang sudah ada,” kata Iqbal.

Sedangkan pilihan ketiga, RRI tetap menjadi blok politik. Meskipun, pilihan yan ketiga ini bisa menjadi pilihan yang pertama. Karena, sejatinya, jadi atau tidak kita mendirikan partai politik, RRI akan tetap menjadi blok politik.

Iqbal meminta agar para peserta berdiskusi secara terbuka.

“Tidak ada yang perlu ditutup-tutupi. Kita tidak berfikir tentang kelompok kita, tetapi untuk bangsa dan negara. Jangan dulu menutup diri. Mari kita dengarkan setiap pendapat dengan hati yang jernih dan niat yang baik demi Indonesia baru. Indonesia yang memberikan harapan kepada seluruh rakyatnya.”

Setelah Iqbal menyampaikan pengantar, giliran berikutnya Mochtar Pakpahan mewakili Partai Buruh/SBSI menyampaikan pandangan. Berikutnya adalah Henry Saragih mewakili Serikat Petani Indonesia, Ilhamsyah mewakili Rumah Rakyat Indonesia dan Freddy mewakili Organisasi Rakyat Indonesia. (*)