Antara Aku dan Joko Waras

Surabaya, KPonline – Tanggal 20 November 2016 adalah saat pertama kali aku melihatnya dari dekat. Bagaimana kondisinya, rumahnya, dan perasaan sedih dari keluarganya.

Anak ini masih berusia empat belas bulan yang harus menerima dan menanggung satu penyakit langka. Penyakit Hidrosefalus atau menurut bahasaku sendiri dari apa yang aku lihat adalah pembesaran kepala. Ini artianku sendiri yang memang tidak memiliki dasar ilmu kedokteran. Berat tubuh mungil balita yang tergolek lemah ini mungkin sama dengan berat kepalanya, dengan mata yang selalu terpejam.

Ibu Dwi demikian nama ibunya, selalu menggendongnya dengan penuh kasih sayang dan kelembutan, layaknya seorang malaikat yang menjaganya dari renggutan kematian. Saya yakin didalam hatinya ia menangis tiada tara, raut wajah ibu muda ini begitu datar seolah mengatakan “kami pasrah atas apa yang terjadi karena kita hanyalah keluarga tidak mampu”. Sambil sesekali di ciuminya pipi anaknya itu yang ternyata bernama Joko waras.

Rumah keluarga Joko sangatlah memperihatinkan, rumah dengan plester semen yang sudah banyak yag berlubang, berdinding bambu dengan penerangan seadanya, perabotannya didalamnya pun juga ala kadarnya dengan sumur yang berdampingan dengan rumah tidak ada yang mewah. Dengan cobaan datangnya penyakit ini seolah menambah berat beban ibu Dwi, belum lagi suaminya yang lari dari tanggung jawab atas penderitaan anaknya ini, membuat perasaanku campur aduk tidak karuan, bisa aku katakan saat itu adalah rasa iba level tertinggi yang pernah aku rasakan. Ada semacam beban moral yang memanggil nurani untuk bisa membantu pergulatan keluarga ini dalam berjuang mengupayakan kesehatan anaknya.

Sebagai relawan Jamkeswatch, rasa iba dan ingin menangisnya diriku menjadi semacam pendongkrak semangat untuk bisa membantu hingga mendapatkan pengobatan yang layak sampai sembuh, bersama dengan beberapa LSM di Tuban yang tergabung dalam AKT (Apa Kabar Tuban). Kita akhirnya memulai advokasi, dengan mendatangi Dinas Sosial dan berbagai pihak terkait di Tuban hingga Gresik, karena alamat tertera bapaknya adalah di Gresik.

Sebelumnya, Joko Waras di rawat di RS Dr Koesma di Tuban namun atas dokter setempat menganjurkan agar pasien dibawa ke RS Dr Soetomo di Surabaya yang mempunyai peralatan medis lebih lengkap dibanding di RS Dr Koesma.

Saat berada di RS Dr Koesma di Tuban, ada satu permasalahan saat Tim jamkeswatch mengadvokasi tentang pembiayaaan di Rumah Sakit, mengingat oleh Dinas Sosial Tuban pasien ini dianggap sebagai warga Gresik. Masalah akhirnya dapat terselesaikan dengan bantuan dari Dinsos Tuban dengan membuat identitas penduduk sementara.

Saya sendiri adalah anggota dari PUK SPL FSPMI PT Ume Sembada di Gresik. Meski demikian bersama-sama dengan kawan kawan tim Jamkeswatch lainnya, kami dengan semangat yang tinggi rela bolak balik Gresik Tuban untuk membantu advokasi. Berunntunglah diriku, keluargaku sendiri terutama istriku sangat mendukung apa yang aku lakukan ini, meskipun aku seperti bang Toyib yang jarang pulang.

Saya yakin bahwa apabila kita mau berusaha pasti Tuhan akan membukakan jalan-Nya.

Selain melakukan advokasi, kami tim Jamkeswatch juga melakukan penggalangan Donasi untuk Joko waras, baik saat Rapat rutin organisasi dan saat aksi 2 Desember di kantor Gubernur di Surabaya. Dan Alhamdulillah, Koran Perdjoeangan ikut membantu dalam melakukan pemberitaan dan pengumuman aksi sehingga donasi didapatkan dana yang lumayan besar untuk keluarga Joko Waras.

Terkumpulnya donasi sebesar Rp. 9.405.000 ini menunjukkan bahwa masih ada kepedulian terhadap sesama. Ini yang harus dijaga, pasalnya pemerintah dan masyarakat sudah hilang kepekaan sosialnya, rasa kebersamaannya, meskipun punya struktur hingga RT/RW, nyatanya pemerintah tidak mengetahui kondisi rakyatnya. Sepertinya memang kita harus terus bekerja keras dan tidak terlalu berharap pada pemerintah.

Pada Sabtu, 10 Desember kemarin semua dana yang terkumpul, kami (Tim Jamkeswatch ) serahkan kepada keluarga Joko Waras bersama dengan pengurus Konsulat Cabang FSPMI Gresik Ruston Efendi di Rumah Sakit Dokter Soetomo Surabaya. Dengan ikut menyerahkan donasi ini, sedikit meringankan beban pikiranku pada kondisi keluarganya yang memprihatinkan, bahkan sekedar untuk makan saat menunggui anaknya di Rumah Sakit.

Saat pertama kami menjenguk Joko di RS Dr Soetomo, ternyata Dokter berhasil melakukan operasi dengan mengangkat bagian otak yang terinfeksi, namun masih menyisakan lukanya, untuk batok kepala ada kemungkinan mengecil atau menutup walau tidak normal. Kondisi mata sementara ini hanya bisa melihat biasan cahaya namun pendengarannya masih berfungsi dengan baik.

Sampai sejauh ini saya bisa bernafas lega, melihat kesigapan perawatannya serta terus berharap agar dana donasi yang kami serahkan bisa sedikit meringankan baik untuk pengobatan, operasi dan lain sebagainya.

Melalui tulisan ini saya mewakili tim Jamkeswatch Jawa Timur mengucapkan jutaan terima kasih kepada seluruh anggota FSPMI dan masyarakat yang telah menyisihkan uangnya untuk Donasi saudara kita Joko waras.

Untuk adikku Joko Waras, tetap bertahan nak.. kita semua akan berjuang untuk kesembuhanmu.

Salam JKN, Salam sehat hak Rakyat Indonesia dan salam juang sehormat hormatnya dari saya Zahidur Rohmah. (*)

Penulis: Zahidur Rohmah

Editor: Ipang S