4 Tahun Tragedi Berdarah di Kawasan Industri Bekasi

Bekasi, KPonline – Buruh Indonesia yang tergabung dalam Konsolidasi Nasional Gerakan Buruh (KNGB) melakukan mogok nasional. Pemogokan nasional ini diselenggarakan tanggal 31 Oktober dan 1 Nopember 2013.

Pemogokan terjadi di 15 Provinsi dan 150 Kabupaten/Kota. Hampir 40 Kawasan Industri lumpuh. Meliputi Jakarta (Pulo Gadung, Sunter, KBN Cakung, Tanjung Priol), 7 (tujuh) kawasan industri di Bekasi, 3 (tiga) kawasan industri di Karawang, 3 (tiga) kawasan industri di Purwakarta.

Selain itu, pemogokan juga terjadi di Tanggerang (Jatake, Cikupa, Balaraja, Tangerang Selatan), Serang, Cilegon, Subang, Bandung, Cimahi, Medan, Deli Serdang, Batam, Bintan, Karimun, Makasar, Bitung, Gorontalo, Samarinda, Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Pasuruan, Mojokerto, Purbolinggo, Pekalongan, Cilacap, Demak, Semarang, Yogyakarta, dan kota-kota industri lainnya.

Mogok nasional pada hari itu diklaim mencapai 2 juta buruh.

Buruh mengusung tuntutan utama, yaitu upah layak. Di luar upah, masih ada 4 (empat) tuntutan lain yang diusung buruh dalam mogok nasional. Pertama, meminta pemerintah menjalankan Jaminan Kesehatan Nasional untuk seluruh rakyat per tanggal 1 Januari 2014, bukan secara bertahap hingga tahun 2019. Kedua, meminta agar sistem Outsourcing dihapuskan. Ketiga, sebagai solidaritas untuk buruh informal, mogok nasional ini juga meminta agar RUU Pekerja Rumah tangga (RUU PRT) segera disahkan. Dan yang terakhir, keempat, menuntut UU Ormas segera dicabut.

Di Bekasi, mogok nasional diserang preman. Berikut adalah catatan koranperdjoeangan.com terkait dengan penyerangan yang terjadi di beberapa tempat tersebut:

Penyerangan di sekitar PT Abacus

Pada jam 08.00 pagi, buruh PT. Abacus akan melakukan mogok nasional. Saat buruh keluar dari pabrik, mereka bertemu dengan konvoi sejumlah massa yang diduga dari ormas Pemuda Pancasila (dugaan ini didasarkan pada seragam yang digunakan identik dengan ormas ini) di sekitar PT. Panasonic PEWSMID. Massa dari ormas tersebut langsung menghalau dan melakukan penyerangan terhadap buruh. Mereka melarang buruh melakukan mogok nasional.

Dalam penyerangan tersebut, seorang pekerja Abacus bernama Ade Nurdin Maulana tertangkap oleh massa Ormas. Mereka melakukan tindakan kekerasan terhadap Ade, dengan cara menyeret korban dengan motor, menginjak-injak, dan memukul wajah korban dengan balok kayu.

Pengeroyokan dan tindakan kekerasan terhadap Ade Nurdin Maulana.

Selanjutnya, massa dari Ormas merusak kendaraan pekerja PT Abacus, dengan cara memukul dengan balok kayu dan pipa besi, dan melindas sebelas motor dengan mobil komando, sehingga kondisi motor tersebut hancur.

Motor milik buruh di rusak.

Massa kemudian masuk ke dalam PT Abacus dan merusak pos security hingga hancur. Mereka juga memasuki ruang produksi PT Abacus, namun dihalang-halangi oleh security PT Abacus yang bernama Subandi. Tidak terima dihalang-halangi, mereka membacok kepala Subandi dengan menggunakan golok. Subandi yang terluka dilarikan ke Rumah Sakit Hosana Medika.

Dalam penyerangan tersebut, buruh PT Abacus yang bernama Imron, Joko, dan Purwadi juga menjadi korban penyerangan . Ketiganya dipukul dengan menggunakan balok kayu, dan pipa besi. Penyerangan tersebut menyebabkan, Joko mengalami robek di bibir, Purwadi mengalami luka robek di kepala, Imron mengalami luka lebam dan memar di bagian pundak dan wajah.

Kekerasan di sekitar PT. Chaolong

Kamis, 31 Oktober 2013, pukul 9.30 Wib, Buruh PT Tristar, PT Tsuang Hine, Duta Laser Metalindo berjumlah sekitar 50 orang bermaksud mengikuti mogok nasional. Saat tengah menuju tempat titik kumpul di depan Kalbe Farma dengan melakukan konvoi, dihadang oleh sekelompok massa yang ciri – cirinya berkulit hitam dan berbadan tegap, dengan membawa senjata tajam berupa pedang, golok, belati
Karena penghadangan tersebut, buruh memilih mundur.

Pada saat akan mundur, Wawan Kartiwan [26 tahun] pekerja PT Tristar ditusuk dengan menggunakan senjata tajam, berupa pedang, dibagian pinggang sebelah kiri, dengan kedalaman luka sekitar 10 cm, tusukan tersebut hampir mengenai ginjalnya.

Selain Wawan, Joko Susanto Buruh PT Duta Laser Metalindo, juga mengalami penusukan di bagian pinggang sebelah kiri, dengan kedalaman luka sekitar 2 cm.

Detik-detik saat pelaku mengambil senjata tajam untuk menyerang buruh.

Pada waktu yang bersamaan, Ruri Safrul [28] mengalami penusukan di bagian pinggang sebelah kanan, dengan kedalaman luka 3 Cm. Pengeroyokan terhadap Ruri dilakukan oleh sekitar 4 orang, mereka melakukan pemukulan di bagian kepala dengan menggunakan pipa besi, berukuran panjang sekitar 50 Cm.

Pada saat penyerangan tersebut terlihat sekitar 15 orang, diantaranya empat orang menggunakan mobil Avanza hitam dengan nomor polisi B 8518 UP. Mereka terlihat membawa pedang, pipa besi, belati dan pemukul kasti.

Kekerasan di depan PT. Gramedia

Kamis 31 Oktober 2013, sekitar pukul 10.30 wib, buruh melakuian konvoi untuk mengikuti Mogak Nasional bersama mobil komando. Ketika tiba di putaran depan PT Gramedia, dihadang oleh sekitar 30 orang kelompok massa preman dan langsung menyerang Buruh dengan senjata tajam jenis pedang, samurai dan benda tumpul (balok, bambu).

Seorang buruh Karna Irama terkena sabetan samurai dibagian punggung dengan panjang luka 15 cm

Meskipun sudah dilerai oleh aparat kepolisian, tetapi para preman tetap menyerang buruh menggunakan balok kayu, pedang, samurai, golok, besi dan parang sehingga salah satu buruh bernama Karna Irama terkena sabetan samurai dibagian punggung dengan panjang luka 15 cm.

Kekerasan di PT Enkei Plant 1

Kamis, 31 Oktober 2013, sekitar pukul 10.30 WIB PT. Enkei Plant 1 di kawasan industri Hyundai diserang oleh sekelompok massa. Massa tersebut melempari batu, dan merangsak ke dalam area pabrik PT. Enkei Plant 1. Bahkan mereka membawa senjata tajam kapak dan benda-benda pentungan besi, balok, pedang, dan melakukan penyerangan terhadap buiruh yang ada di dalam area perusahaan. Penyerang diduga berasal dari ASPELINDO.

Suasana penyerangan di PT. Enkei Plant 1
Kekerasan di PT Fatasarana

Kamis, 31 Oktober 2013, sekitar puku 11.30 wib, pekerja PT Fatasarana bermaksud untuk mogok nasional dengan terlebih dahulu menghampiri rekan-rekan buruh PT Enkei. Setiba didepan PT Enkei terdapat sekelompok orang yang diduga dari ormas IKAPUD menghadang buruh PT Fatasarana dan meminta buruh untuk balik.

Buruh diserang hingga dikejar hingga ke dalam pabrik.

Melihat sekelompok ormas IKAPUD bersenjata balok, pentungan, pedang, samurai, maka para buruh balik kembali ke PT Fatasarana. Tetapi massa ormas IKAPUD terus mengejar para buruh PT Fatasarana, bahkan masuk kedalam areal PT Fatasarana melakukan penyerangan terhadap buruh, merusak pos security, dan memukul seorang buruh bernama Rubi Ratno (28) dengan pipa besi. Akibat pemukulan tersebut tangan kiri Rubi patah. Selain itu, didepan pintu gerbang PT Fatasarana juga terlihat mobil komando milik ASPELINDO.

Kekerasan di sekitar PT Cheil Abrasive

Bahwa pada hari Kamis 31 Oktober 2013, sekitar puku 12.00 wib, pekerja PT Cheil Abrasive bermaksud untuk mogok nasional dengan terlebih dahulu menghampiri rekan-rekan buruh PT Enkei. Setiba didepan PT Enkei, sekitar 40 buruh masuk kedalam PT Enkei menjemput kawan—kawannya. Pada saat itu, seorang buruh bernama Sudiryanto berada didepan PT Enkei, kemudian datang sejuimlah preman menghajar Sudiryanto dengan balok kayu dan besi dibagian rahang dan wajah.

Kekerasan di sekitar PT. ENKEI Plant 2

Kamis, 31 Oktober 2013, sekitar pukul 14.30 wib ada rombongan buruh berjumlah sekitar 500 orang dengan mobil pengeras suara, konvoi dan sosialisasi mogok nasional dengan menjemput pekerja PT.Enkei Plant 1. Sekitar 300 pekerja PT. Enkei Plant 1 bergabung dengan barisan massa tersebut dan bergerak menuju Perempatan Lippo Cikarang.

Saat melalui PT. Daehwa massa konvoi buruh diserang preman dan dilempari batu bata, pecahan konblok, dan potongan kayu, yang membuat rombongan massa konvoi buruh kocar-kacir dan sebagian rombongan pekerja menyelamatkan diri dengan masuk ke dalam PT.Enkei Plant 2. Massa buruh dikejar dan dilempari serta diserang. Di sini buruh melakukan pembelaan diri dengan balik melempari preman dengan batu.

Para preman terus mengejar dan menyerang buruh bahkan sampai masuk ke dalam area perusahaan PT.Enkei Plant 2, mereka melakukan penyerangan, pelemparan, dan bahkan terjadi pembacokan terhadap buruh dan penganiayaan. Juga terjadi pengrusakan terhadap motor pekerja, bahkan pengrusakan kaca-kaca perusahaan.

Terdapat banyak korban dari buruh, diantaranya Rochmat (pekerja PT. Enkei) mengalami luka serius bacokan di bagian kepala, bahkan sampai tembus ke tengkorak kepala. Ada juga korban bernama Diki yang mengalami luka di bagian kepala karena dianiaya dan dikeroyok preman. Korban lainnya bernama Suwanto mengalami luka di bagian kaki akibat pukulan balok.

Selain itu, masih banyak lagi korban dari buruh. Salah satunya adalah Suprayitno yang mengalami luka di bagian kepala 5 jahitan.

Penyerangan di sekitar  PT. Kyung Shin Indonesia

Kamis, 31 Oktober 2013, pada jam yang sama 14.30 pekerja PT. Kyung Shin Indonesia juga bergabung dengan rombongan massa konvoi buruh juga mengalami kejadian penyerangan, pengeroyokan, dan penganiayaan dari sejumlah preman. Nama nama korban dari pekerja PT. Kyung Shin Indonesia bernama Eko Wanandi yang mengalami luka di bagian kepala dan pundak akibat pukulan balok kayu. Juga ada korban bernama Norman Heriyadi yang mengalami luka tusukan benda tajam dibagian paha, dan luka memar di wajah akibat pukulan pentungan balok besi.

* * *

Apa yang terjadi di Bekasi, tentu saja, telah menciderai demokrasi. Ketika buruh melakukan aksi mogok, sesungguhnya mereka sedang menjalankan demokrasi itu sendiri. Apalagi mogok kerja, hampir diseluruh dunia, telah diakui sebagai hak buruh yang dijamin oleh undang-undang. Mogok, disatu sisi, juga menjadi media dalam menyampaikan aspirasi.

Kasus ini juga dilaporkan ke ILO, sebagai salah satu pelanggaran hak kebebasaran berserikat. Sayangnya, hingga saat ini otak dibalik kekerasan ini belum terungkap.

Kita berharap, kasus seperti ini tidak akan terjadi kembali.

Facebook Comments